Langsung ke konten utama

Postingan

[PRABOWO, BUKTIKAN ! JANGAN JANJI TERUS]

Episode yang membuat semua mata anak bangsa bahkan sudah tersiar ke media internasional, bagaimana Rantis Baracuda Brimob melindas pengemudi ojol hingga tewas bernama Affan Kurniawan, Kamis malam lalu. Ini bisa menjadi "martir". Seperti mahasiswa Arief Rahman Hakim 1966 dan empat pahlawan Reformasi 1998, yang kemudian kita semua tau berujung pada berakhirnya Soekarno dan tumbangnya Soeharto.  Sejak malam itu para pengemudi Ojol menunjukan solidaritas nya di depan Mako Brimob hingga pagi.  Aksi solidaritas kemudian menjalar ke beberapa daerah di tanah air pada hari Jum'at. Bukan saja pengemudi ojol saja, tapi mahasiswa dan rakyat ikut turun. Pengrusakan, terutama kendaraan dan kantor polisi tak bisa dihindari.  Presiden hingga Ketua DPR Puan memberikan pernyataan permohonan maaf ditambah kalimat, "Nanti kami akan perbaiki" hal-hal yang tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. Lebih kurang demikian, ininya NANTI. Ini artinya berjanji.  ...
Postingan terbaru

[OJOL DAN BARA GERAKAN]

Saya sedikit telat membaca berita terkini aksi demo di Jakarta malam hari ini. Karena semalam sejak sebelum Maghrib ada agenda malam Jum'atan. Terutama peristiwa malam ketika Mobil Baracuda Brimob melindas hingga tewas seorang Ojek Online (Ojol) berjaket hijau yang berada ditengah massa aksi yang tengah membubarkan diri.  Dini hari saya kaget, sedih bercampur geram. Betapa polisi ini tidak bernurani (bukan oknum polisi, karena sudah nyata polisi). Walau sebelumnya juga dari video lain yang beredar di media sosial banyak kekerasan yang dilakukan terhadap demonstran. Tapi, tewasnya ojol ini benar-benar tidak dapat diterima dengan akal sehat. Kapolri secara langsung sudah meminta maaf dan propam akan memeriksa siapa pengendara baracuda dan polisi yang terlibat. Saya rasa tidak sesederhana dan gampang itu tanggung jawab seorang pemimpin tertinggi polisi.  Dalam setiap aksi dan pergolakan di dunia termasuk Indonesia. Kematian demonstran bisa menjadi percikan...

[SELAMAT DATANG MAHASISWA BARU]

  Sore itu saya menutup acara "Respek 2019". Pengenalan kampus bagi mahasiswa baru yang datang dari 20 provinsi se-Indonesia. Sebelum naik ke panggung, coba menggoreskan pena pada kertas yang tersimpan dalam saku. Pesan bukan hanya untuk mahasiswa baru yang ada di hadapan saya nanti. Tapi juga bagi semua mahasiswa baru atau lama, tahun 2019 itu bahkan angkatan sebelumnya bahkan sesudahnya. MAHASISWA Mahasiswa... Bukan gelar kehormatan atau gaya-gayaan Tak sekadar beralmamater dan berpenampilan manis Bukan juga titel memeras dan kesombongan Tidak juga kumpulan huruf tak keramat Mahasiswa... Bukan novel romantis dan heroik untuk dibaca semata Tidak sesederhana memahami rumus dan teori Apalagi mengukur jarak kampus dan kost saja Bukan kumpulan bebek berbaris lurus presisi di mata Mahasiswa... Bukan robot-robot tanpa isi kepala Bukan buku bercover tebal tanpa isi Bukan lagu tanpa bait dan syair Tidak juga serupa gadget tanpa signal dan pulsa Mahasiswa... Adalah mata air yang meng...

[ALARM TAHAJUD TGH. MUSLEH KHOLIL]

"Tahajud yuk".  Sebuah pesan singkat melalui SMS itu selalu masuk antara jam 3 hingga 4 dini hari. Hampir setiap hari. Sejak saya diminta membantu beliau di wilayah pada tahun 2008 silam.  Saat itu belum ada BBM atau android, paling banter komunikator. HP keluaran Nokia yang bisa tersambung saluran internet. Cuma pejabat atau orang berada yang memilikinya. Sekelas saya dan kebanyakan orang cuma HP dengan fasilitas telpon dan SMS saja.  Waktu KKN di Sumbawa lima tahun sebelumnya saya membaca sebuah artikel berjudul "Shalat Malam Seluler (SMS)". Masa itu saya belum punya HP. Tulisan itu membahas perihal para aktivis saling membangunkan shalat malam, terutama shalat Tahajud dengan SMS lewat telpon seluler yang dimilikinya. Nah, artikel ini baru saya rasakan pengamalannya ketika beliau mengirim pesan singkat pada sepertiga akhir malam.  Entah kepada saya saja atau semua tim yang membantu beliau di wilayah juga mendapatkan pesan istimewa itu. Saya tidak pernah ko...

[SALAM PAGI 172: SUARA AZAN]

  Assalamu’alaikum Pagi “Azan bukan sekadar seruan penanda waktu shalat, setelah terdengar dibiarkan berlalu. Atau terkerdilkan sebatas alarm penanda subuh, dimatikan kemudian tidur dilanjutkan .” Salah satu hal terindah adalah dapat menjawab suara azan. Bukan semata menjawab dengan mendirikan shalat yang bisa saja setelah panggilan itu berlalu beberapa waktu. Bahkan karena kesiangan bangun di subuh hari. Tapi, benar-benar menjawab azan itu dengan kalimat yang sama dengan yang terucap oleh muazin saat itu. Siapa yang menjawab panggilan azan seperti seruan muazin dari dalam hatinya, maka akan masuk surga 1 . Umar bin Khatab ra. menyampaikan sabda Rasulullah saw. itu. Siapa di antara kita yang membuang begitu saja tiket ke surga? Dari Sa’d bin Abi Waqqash ra. disampaikan sabda Rasulullah saw lainnya. Siapa yang mengucapkan (menjawab azan) itu, maka dosa-dosanya akan diampuni 2 . Siapa di antara kita yang tak mau diampuni dosanya, sedangkan setiap hari ada saja kemaksiatan di...

226 [TERUSLAH BERKICAU DI DAHAN NEGERI] --- MENGENANG WS. RENDRA

  Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah perlaksanaan kata-kata. Potongan lirik di atas saya dengar dari kaset Iwan Fals yang dibeli pada saat SMA dulu. Dari judul lagu “Paman Doblang” yang dibawakan oleh “Kantata Takwa”. Sebuah group band kolabrasi luar biasa orang-orang yang giat melakukan kritik sosial lewat seni dimasa orde baru. Terlahir dari proses interaksi kerisauan besar yang berasal dari ruang workshop Setiawan Djody. Tujuh orang personil nya, Iwan Fals (vocal), Sawung Jabo (vocal), WS Rendra (vokal pendukung), Setiawan Djody (gitar), Jockie Surjoprajogo ( keyboard ), Donny Fatah (bass) dan Innisisri (drum). Saya belakangan baru mengetahui salah satu personilnya adalah WS. Rendra seorang sastrawan. Dan “Paman Doblang” adalah salah satu sajak karyanya. Lengkap sajak yang ditulis tahun 1984 itu seperti berikut: PAMAN DOBLANG – WS Rendra Paman Doblang! Paman Doblang! Mereka masukkan kam...

225 [LETAK KEBAHAGIAAN]

Menempatkan kebahagiaan pada benda akan membuat manusia berlomba dalam menumpuknya. Baik dari segi ukuran atau trend kekinian.  Mendudukkan kebahagiaan pada jabatan akan menjadikan manusia pemburu kekuasaan yang tak berujung. Baik dengan cara benar, maupun haram melibatkan kekerasan bahkan hal jahat yang tak pernah dibayangkan.  Mengukur kebahagiaan dari popularitas akan membuat seseorang jauh dari diri yang sebenarnya. Ketenaran akan mempersempit ruang privasi. Tak bisa lagi jalan sendiri, tanpa pengawalan. Ke sana kemari dikejar-kejar fans yang minta foto hingga mencolek dan mencubit. Menilai kebahagiaan dengan memenuhi keinginan semua orang hal yang mustahil. Setiap orang punya cara pandang dan standar kebahagiaan yang tak sama. Bahkan jika kita bahagia dengan kesederhanaan, tetap ada yang memprotes.  Membaca di dalam kamar, cukup dengan nyala lilin. Tak perlu obor apalagi api unggun. Bukan nikmat bahagianya membaca yang di dapat, tapi asap yang menyesakkan...